Telaga Makrifat View larger

Telaga Makrifat

New product

Mempertajam Mata Bathin indera keenam

MA’RIFAT adalah tingkat penyerahan diri kepada Allah secara berjenjang, secara setingkat demi setingkat sehingga sampai kepada tingkat keyakinan yang kuat. Orang yang memiliki ilmu makrifat dianggap sebagai orang yang ‘arif’, karena ia bisa memikirkan dalam-dalam tentang segala macam liku-liku kehidupan di dunia ini.

More details

This product is no longer in stock

Rp‎ 35,000.00

MA’RIFAT adalah tingkat penyerahan diri kepada Allah secara berjenjang, secara setingkat demi setingkat sehingga sampai kepada tingkat keyakinan yang kuat. Orang yang memiliki ilmu makrifat dianggap sebagai orang yang ‘arif’, karena ia bisa memikirkan dalam-dalam tentang segala macam liku-liku kehidupan di dunia ini.

Oleh karena itu jika kita bersungguh-sungguh dalam mempelajari ilmu makrifat, maka akan meraih suatu karomah. Karomah adalah keistimewaan yang tidak dimiliki orang awam. Bentuk karomah tersebut adalah mata hati kita menjadi awas dan indra keenam kita menjadi tajam. Jika indra keenam menjadi tajam, kita akan dapat mengetahui sesuatu yang tersembunyi di balik peristiwa.

Orang yang mata hatinya dan indra keenamnya tajam, maka ia dapat masuk ke dalam hal-hal yang dianggap gaib (ter­sem­­bu­nyi). Orang yang arif (memiliki ilmu makrifat), suka mem­per­­hatikan tanda-tanda kebesaran Allah dengan mata kepalanya. Ke­­mudian ia merenungkan dengan mata hatinya.

Orang makrifat jika melakukan sesuatu atau memutuskan se­suatu menggunakan nuraninya daripada hawa nafsunya. Ia tahu betul, apakah hawa nafsu yang mempengaruhi dirinya atau nu­­­ra­ni­nya yang berkata. Oleh karena itu, orang yang sudah menduduki ting­kat ini, selalu tajam indra keenamnya. Ia tahu sesuatu yang me­rugikan bagi dirinya meskipun tampak seakan-akan me­ngun­tung­kan. Ia pun tahu apa yang menguntungkan, meskipun seakan-akan tampak seperti merugikan.

Maka jangan heran, kadang-kadang orang awam memandang ses­uatu itu baik dan menguntungkan, namun bagi orang makrifat (ta­jam indra keenamnya) dipandang sebagai sesuatu yang mem­ba­hayakan.

Melihat kebaikan dan keburukan dengan mata kepala saja, ti­­dak akan dapat mengetahui keadaan yang sebenarnya. Sesuatu ya­ng elok dipandang mata kadang-kadang hanyalah tipuan belaka. Sesuatu yang buruk di pandang mata, kadang-kadang tersimpan sesuatu yang menguntungkan. Maka betapa pentingnya jika kita berlatih untuk mempertajam mata hati dan indra keenam.

Buta mata belum tentu membahayakan bagi kehidupan kita. Karena banyak orang yang buta matanya tetapi masih mampu melakukan sesuatu yang terbaik bagi dirinya. Bahkan ia mempunyai keistimewaan, yakni lebih awas daripada kita yang memiliki mata normal. Namun jika mata hati telah buta, maka pertanda hancurlah kehidupan kita; baik kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat.

Orang yang buta hatinya seringkali merasa kecewa dalam menghadapi liku-liku kehidupannya, karena ia sering gagal dalam mengambil keputusan. Keputusannya lebih banyak meleset. Sebab yang digunakan untuk mengambil keputusan lebih didasarkan pada penglihatan pandangan mata dan akal yang dipenuhi hawa nafsu. Jadinya, ia kurang cermat dan kurang hati-hati. Ia mudah terkecoh dengan fatamorgana serta khayalan-khayalannya sendiri.

 

Dan barangsiapa yang buta (mata hatinya) di dunia ini,

maka buta pula kelak di akhirat jauh tersesat jalannya.

Sesungguhnya bukan matanya yang buta,

tetapi mata ha­ti­nya­lah (yang buta) yang berada di rongga dadanya.

 

Oleh karena itu, betapa pentingnya kita mempelajari ilmu makrifat. Dengan ilmu makrifat, hati dan alam bawah sadar kita ter­hindar dari ‘kebutaan’. Hati kita menjadi jernih sehingga setiap apa yang kita pikirkan dan kita lakukan akan mendatangkan hasil yang menguntungkan.

Orang makrifat, selalu berprasangka baik kepada siapapun. Ia juga selalu berprasangka baik kepada Allah swt. Tidak pernah berkeluh kesah dalam hidupnya. Ia selalu merasa dekat kepada Allah. Selalu merasa cinta, penuh harapan dan hatinya terasa senantiasa tentram.

Ilmu makrifat mengantarkan kita kepada suasana hati ikhlas dalam berbuat apa saja, lebih-lebih beribadah kepada Allah. Ibadahnya dilakukan tanpa pamrih dan tanpa keinginan dipuji orang lain.

Orang-orang makrifat menganggap jika perbuatan dilakukan tidak dengan ikhlas, tetapi dengan pamrih, maka akan mengotori jiwanya. Jika jiwa kotor, hati akan berdebu. Bila hati berdebu,berarti mata batin dan indra keenam telah buta.

Golongan orang-orang ini selalu menjaga hatinya dan alam bawah sadarnya agar tidak tercemar dari debu-debu yang dapat membutakan. Karena itu, suasana hati orang makrifat selalu tenteram karena selalu berprasangka baik kepada siapa pun, tidak membenci, tidak dendam, tidak iri hati, tidak sombong dan tidak riya’.

Sebab sederetan penyakit hati semisal sombong, benci, dendam, iri hati dan sebagainya merupakan letupan emosi; bukan nurani yang berbicara, melainkan nafsu keserakahan.

Jika kita telah mendalami ilmu makrifat dengan bersungguh-sung­guh, maka akan dapat melihat betapa diri kita menjadi orang ya­ng luar biasa. Mungkin kita akan terheran-heran. Karena jika il­mu makrifat telah dikuasai, maka seseorang akan dapat mengenal Allah, sehingga antara dirinya dan Allah tidak ada batas/perantara; sehingga seakan-akan mampu berhubungan langsung.

Di samping itu, kita akan dapat dengan mudah menyerahkan hawa nafsu menurut kehendak Allah. Kita merasa tidak punya hak untuk memiliki, sekalipun pada diri sendiri. Karena menyadari segala sesuatu yang ada di dunia ini hanyalah milik Allah, termasuk nyawa kita.. []

PenulisSyekh Ibnu Atho
PenerbitMitrapress – Surabaya
Ukuran14,5 cm x 20,5 cm
Halaman272 Halaman
CoverSoft Cover
LanguageBahasa Indonesia

Specials products

No specials at this time.

Product successfully added to the product comparison!